Tampilkan postingan dengan label kisah teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah teladan. Tampilkan semua postingan

Kisah Mahar Paling Indah

Sejarah telah berbicara tentang berbagai kisah yang bisa kita jadikan pelajaran dalam menapaki kehidupan. Sejarah pun mencatat perjalanan hidup para wanita muslimah yang teguh dan setia di atas keislamannya. Mereka adalah wanita yang kisahnya terukir di hati orang-orang beriman yang keterikatan hati mereka kepada Islam lebih kuat daripada keterikatan hatinya terhadap kenikmatan dunia. Salah satu diantara mereka adalah Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najar Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah. Beliau dikenal dengan nama Ummu Sulaim.




Julaibib, Sahabat Nabi


Julaibib, begitu dia biasa dipanggil.
Kata ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri fisiknya; kerdil. Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap.
Nama ini, tentu bukan ia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir ...ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya.
Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia.

Bidadari untuk Umar

Umar bin Khaththab radhyallahu'anhu, salah satu sahabat Rasul yang terkenal akan keshalihannya dan kewara`annya.

Semenjak beliau memeluk islam kaum muslimin seakan memperoleh sebuah kekuatan baru yang sangat besar. Hal ini sebagai buah atas... dikabulkannya doa sang idola, Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam tercinta.

“Ya Allah muliakanlah islam dengan masuknya salah satu dari dua Umar.”
Yakni Umar bin khaththab dan Amr bin Hisyam atau dikenal sebagai Abu Jahal. Sejak saat itulah, Kaum muslimin yang baru sedikit itu berani shalat dan thawaf di ka`bah secara terang-terangan.

Umar adalah salah satu sahabat Rasul yang sangat wara`, sangat teliti, hati-hati terhadap dosa-dosa kecil. Ia sangat takut masuk neraka, saking takutnya tiap kali melantunkan ayat-ayat AlQuran ia sering menangis atau tatkala hanya mendengarkan ayat-ayat AlQuran.

Terkenal di Langit Tak Terkenal di Bumi


Pada zaman Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan matanya mudah meneteskan airmata, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.
Pernah seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”.

Pesan Sang Ayah

Telah terukir dalam sejarah penyebaran agama Allah di muka bumi, seorang ayah dengan penuh haru meninggalkan istri dan bayi yang masih dalam gendongan di tengah hamparan pasir jauh dari kehidupan. Sang ibu yang ditinggalkan hanya bisa pasrah menerima kenyataan. Kepasrahan yang dibalut dengan keyakinan bahwa semua itu semata-mata atas perintah Allah menumbuhkan ketabahan dan kesabaran bagi keduanya walau deraian air mata membanjiri pelupuk mata.


Kini semuanya telah berlalu. Bayi yang dulu menangis lantang di tengah padang pasir karena kehausan kini telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang gagah dan tampan. Hidupnya bahagia didampingi oleh Ibrahim sang ayah dan Siti Hajar sang ibu tercinta.
“Wahai Ismail” panggil Ibrahim suatu hari, “Sekarang kamu sudah cukup dewasa. Apakah belum terpikir olehmu untuk mencari pendamping hidup?”
Ismail diam merenungkan kata-kata ayahnya. Walaupun suatu kalimat yang bernada pertanyaan namun sebagai seorang anak yang cerdas ia mengerti bahwa ayahnya menginginkannya agar segera menikah. Kepatuhannya terhadap sang ayah membuatnya tidak berpikir panjang lagi, dipinangnya seorang gadis dari suku Jurhum untuk dijadikan pendamping hidupnya.

Tertidur Seratus Tahun

Pada suatu hari ketika 'Uzair memasuki kebunnya yang subur dengan pepohonan yang hijau daunnya dan lebat buahnya. Hatinya terpesona dengan keindahan pemandangan kebunnya. Ia pun memetik beberapa buah-buahan untuk dibawa pulang. Setelah itu ia pulang dengan keledainya sambil menikmati keindahan alam sekitarnya. Ia tidak sadar bahwa keledai yang ditungganginya telah tersesat jalan. Setelah sekian lama barulah ia sadar bahwa ia telah berada di suatu daerah yang tidak dikenali serta sudah jauh dari desa tempat tinggalnya.

‘Uzair memperhatikan sekeliling daerah yang asing itu.
“Hmm.. Tempat ini seperti bekas sebuah kampung yang binasa akibat peperangan dahsyat…” pikirnya.
Di beberapa sudut kampung itu tampak bekas-bekas reruntuhan dengan mayat-mayat manusia yang bergelimpangan dimana-mana. Ia pun turun dari keledainya dengan membawa dua keranjang buah-buahan. Keledainya ia ditambatkan pada sebatang pohon, lalu ia duduk bersandar pada dinding sebuah rumah yang sudah runtuh. Ia pandangi mayat-mayat manusia yang sudah mulai membusuk itu. Pikirannya mulai berkecamuk,
"Hmm.. Bagaimana orang-orang yang sudah mati dan hancur itu pada hari kiamat dihidupkan lagi oleh Allah?"
Ia terus memikirkan itu hingga tertidur karena kelelahan.